Posted by: wisnuharjantho | April 8, 2008

Nikmati Sepi

biarlah kunikmati sepi ini
kalau dengannya membuatku bisa lebih tenang
biarlah kunikmati sepi ini
kalau dengannya kutemukan pelampiasan rinduku

biarlah kunikmati sepi ini
kalau dengannya bisa kucurahkan air mata ini
biarlah kunikmati sepi ini
kalau dengannya kutemukan rahasia hati

Posted by: wisnuharjantho | February 28, 2008

Tuhan Sembilan Senti

Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Posted by: wisnuharjantho | February 22, 2008

Mesin waktu hanyalah mesin waktu

mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa mengubah hati yang beku
mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa menghancurkan bayangan semu
mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa mengubah masa kelam yang lalu
mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa menjadikan jiwa baru
mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa menjadikan sholat lebih khusyu
mesin waktu hanyalah mesin waktu
jika tidak bisa menambah dekat kepada Yang Menciptakanmu

Posted by: wisnuharjantho | February 22, 2008

Kegaduhan Sepi

Dalam kegaduhan sepi yang berkecamuk di hati,
Ada sepotong jiwa yang terpaku sepi sendiri
Dalam persimpangan hati yang ditemui
Akan kemanakah jiwa akan dibawa menyusuri hari
 
Duhai Cahaya Suci yang bersemayam di hati
Berilah cahayaMu yang akan terus menerangi ruang di hati
Jangan biarkan bayangan hitam menjadi sahabat sejati
Agar aku selalu dekat denganMu, duhai Cahaya Suci
 
Duhai Robb, penguasa hati
Hancurkan bayangan hitam yang keras membatu di hati
Agar ia tak kembali bersemayam di hati
Yang telah bersih terbasuh Cahaya Suci

Posted by: wisnuharjantho | February 7, 2008

Ayah….,aku nggak mau punya istri

Suatu malam, ketika sedang serius membaca buku di kamar, tiba-tiba pintu kamar tersentak terbuka, sedetik kemudian Farhan, anakku yang pertama masuk ke kamar dengan terburu-buru diikuti adiknya Ilham dibelakangnya.  Sejurus kemudian Farhan langsung mendekat di sampingku dan berkata :

“Ayah aku nggak mau punya istri” sambil pelan-pelan ia meletakkan kepalanya dipangkuanku.

Aku tersentak, perhatianku yang lagi serius menyimak kata-kata dalam bukupun berganti haluan melihat Farhan yang masih menunduk lesu di pangkuanku. Masih kaget bercampur heran, aku mulai mencoba mencari tahu alasan kenapa anakku yang belum genap berumur tujuh tahun bisa berbicara seperti itu.

“Memangnya kenapa, kok Aan (panggilan sehari-hari Kami kepadanya) bisa ngomong kayak gitu ?”. “Pokoknya nggak mau Yah”, katanya. Berulang kali aku desak, jawaban yang sama meluncur dari mulutnya. Aku mulai mereka-reka sendiri alasan yang membuatnya bisa berkata seperti itu. Ketika kebetulan istriku masuk ke dalam kamar, sepertinya aku langsung mendapatkan jawabannya, dengan menuduh sinetron TV yang jadi biang keladinya.“Bu..,tadi habis nonton sinetron sama anak-anak yah ?” sergahku.     

Istriku dengan terheran-heran justru malah balik bertanya, “Nggak kok Yah, memang ada apa ?” jawabnya sambil mengerutkan keningnya. “Ini Aan barusan ngomong, katanya nggak mau punya istri”, kataku. Istriku tersenyum dan mencoba bertanya kepada Aan yang sedari tadi masih tertunduk, dan hasilnya tetap sama, “pokoknya nggak mau”.

Aku yang belum siap dengan pertanyaan anakku ini terus memutar otakku, bagaimana caranya agar dia mau mengatakan alasannya. Akhirnya aku mencoba berkata jujur apa adanya kepadanya, sambil kuusap-usap kepalanya aku berkata dengan lembut “An, semua anak besok kalau sudah besar pasti akan punya keluarga sendiri, yang lelaki punya istri, yang perempuan punya suami terus punya rumah sendiri dan……”, belum sempat aku selesaikan kalimatku, detik kemudian yang terjadi justru tangis yang mungkin sudah ia tahan sedari tadi meledak. Ilham, adiknya yang rupanya juga ikut menyimak dan memperhatikan tingkah laku kakaknya, malah ikut menangis dan membuat isi kamar dipenuhi suara tangisan mereka berdua. Aku semakin bingung, sambil terus berusaha bertanya, akhirnya di sela-sela tangisnya ia berkata “Aan nggak mau punya istri, maunya dengan Ayah sama Ibu terus di sini aja, nggak mau punya rumah sendiri” sambil terus menangis. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memelihara kesucian hati anak-anak dengan kasih sayangNya, tiba-tiba saja jiwaku menjadi merinding mendengar ketulusan hati anakku.

Sambil kudekap kedua anakku, mataku mulai berkaca-kaca dan tak dapat berkata-berkata lagi, tapi dari sanubariku berbisik “Anak-anakku, ketahuilah kamu adalah permata-permata hidupku, perhiasan anugerah Illahi di dunia ini yang harus selalu aku jaga agar tetap berkilauan memancarkan cahaya. Ayah dan Ibumu juga ingin selalu berada dekat denganmu anak-anakku, tapi kecintaan Kami kepada kalian tidak boleh melebihi cinta Kita semua kepada Allah SWT, karena kita semua adalah milikNya yang suatu saat akan dipanggil menemuiNya. Tegarlah Nak, suatu saat kamupun akan mengerti akan kefanaan dunia ini”.  Detik berikutnya, Kami berempat berpelukan  dalam keheningan hatiku dan istriku berpadu sesengukan tangis kedua anakku.

Posted by: wisnuharjantho | February 5, 2008

Ketika Bunga-Bunga Berguguran


Pagi yang sunyi seperti mewakili rasa hatiku
Burung-burung tak lagi berkicau merdu
Matahari seperti enggan beranjak dari tidurnya
Bulanpun tak lagi menampakkan senyumannya
Satu persatu sahabatku pergi dariku
Tak ada lagi tempat untuk mengadu
Mencurahkan segala isi hatiku
Tak ada lagi suasana seperti dulu
Sahabatku,
Bunga-bunga pun tampak gugur dan layu
Tak kan ada lagi wangi semerbakmu
Tuk mengobati hati yang pilu
Seakan hampa rasa hatiku
Semoga dengan kepergianmu
Akan ada secercah cahaya yang menemuiku
Yang membangkitkanku lagi dari sudutku yang pilu
Yang menyalakan lagi semangatku yang membeku
Selamat jalan sahabatku,
Semoga limpahan berkah menaungimu
Limpahan rejeki yang akan menemuimu
Dariku, sahabatmu
Wisnu Harjantho
Posted by: wisnuharjantho | February 5, 2008

Selamat Ulang tahun Tax Ina

Selamat Ulang Tahun Tax Ina,

Tak sabar kunanti malam berganti pagi
Ketika hari menjadi semakin berarti
Walaupun belum lama aku bersamamu
Seakan sudah sewindu terasa

Selamat Ulang Tahun Tax Ina
Semoga dengan bertambahnya “usia”
Semakin lebih bermakna kehadiranmu
Semakin lebih bermanfaat setiap gerakmu

Oleh :
Wisnu Harjantho

Senin, 13 Agustus, 2007

Posted by: wisnuharjantho | February 5, 2008

Lima Tahun Umurmu

Lima Tahun Umurmu

Anakku,

Hari ini, lima tahun yang lalu
Pukul setengah empat pagi ketika ibumu gelisah tak menentu
Pertanda akan segera tiba jiwa suci baru
Segera kusiapkan segala sesuatu
Bergegas kunyalakan sepeda motor setiaku
Pagi yang sunyi kutembus bersama ibumu
Melalui jalanan keras yang berbatu
Menuju tempat pertama kali kita akan bertemu
Anakku,
Tangisan pertamamu membuat kami haru
Pertanda berawalnya nafas pertamamu
Hilang sudah kecemasan ibu dan bapakmu
Selamat datang di dunia barumu, anakku
Duhai Allah Ya Robb, Penggenggam setiap jiwa baru
Bimbinglah Kami untuk selalu menjaga amanahMu
Agar ia selalu dijalanMu
Agar ia selalu ingat kepadaMu
Lima tahun sudah berlalu
Hari ini adalah hari kelahiranmu, anakku
Lima tahun sudah umurmu
Kita sambut waktu dengan ceria selalu

Pondok Cabe, 27 Agustus 2007

Posted by: wisnuharjantho | February 5, 2008

Presiden OOT ku

President OOTPresiden OOT ku

Engkau laksana angin yang menderu
Ketika semangat rakyatmu sedang lesu
Engkau laksana ombak lautan dahsyat
Ketika semangat rakyatmu mulai memucat

Tapi engkau laksana alunan lagu yang merdu
Ketika hati rakyatmu butuh belaianmu
Dan hatimu seperti malaikat
Ketika rintihan hati rakyatmu menyayat

Presiden OOT ku
Hari-hari kan terasa sendu
Tanpa kehadiran sosokmu
Terasa hampa relung hati rakyatmu
Tanpa semi bunga tulisanmu

Presiden OOT ku
Semoga di hari Ultahmu
Limpahan berkah selalu menaungimu
Tebaran rejeki selalu menemuimu

Selamat Ulang Tahun Presiden OOT ku…

Oleh :
Wisnu Harjantho

Posted by: wisnuharjantho | February 5, 2008

SAATNYA PROAKTIF MEMBERANTAS BUTA PAJAK

Ketika suatu malam kita melihat anak-anak jalanan yang tidur berlantaikan
trotoar jalan dan beratap langit yang kelam. Itupun dilalui sekedar untuk
melupakan sejenak penderitaan yang mereka alami, hal ini membuat hati kita serasa terusik. Terkadang pemandangan yang seperti ini dan potret kemiskinan yang lain membuat kita mempertanyakan kinerja pemerintah. Kenapa seakan-akan mereka tak tersentuh oleh uang pajak yang telah kita bayarkan kepada negara selama ini?. Ataukah memang uang pajak tak mencukupi untuk memperlakukan mereka secara layak ? Apakah penyebabnya termasuk pengetahuan pajak masyarakat yang kurang ?Apa yang bisa kita perbuat untuk membantu pemerintah, walapun kecil artinya ?.

Pengetahuan Masyarakat terhadap Pajak

Pengetahuan sebagian besar masyarakat kita akan masalah perpajakan sangatlah minim, sehingga bisa dikatakan sebenarnya masyarakat kita masih buta tentang masalah perpajakan ini.
Belum masuknya pengetahuan pajak dalam kurikulum pendidikan nasional dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang dimulai dari pengenalan hingga penguasaan materi sebagai pelajaran wajib (kecuali untuk tingkat dan jurusan pendidikan tertentu) dianggap sebagai titik awal masalah penyebab ketidaktahuan masyarakat akan pengetahuan pajak, sehingga menyebabkan ketidakpedulian mereka terhadap pajak dan akhirnya negara dan masyarakat itu sendiri yang akan dirugikan

Dalam studi yang dilakukan Bank Dunia (Kompas 25 Nov 2005), sebanyak 66,7 persen responden menilai tidak memadainya pemberian informasi dan pengenalan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pajak kepada mayarakat selama ini. Sedangkan untuk prosedur perhitungan beban pajak beban pajak, sebanyak 53,5 persen responden menyatakan tidak mengetahui sama sekali proses perhitungan pajak yang dibebankan kepada dirinya selama ini. Untuk penggunaan dana pajak, sebagian besar publik : 46,2 persen responden mengakui tidak mengetahui penggunaan dana pajak selama ini. Hanya 33,8 persen yang mengetahui sebagian penggunaan dana pajak dan kurang dari 8 persen yang mengetahui semua bentuk penggunaan dana pajak.

Dari studi di atas bisa tergambar dengan jelas betapa minimnya pengetahuan masyarakat akan pajak, sehingga jangan heran sampai dengan tahun 2005 saja baru sekitar 3,6 juta NPWP yang terdaftar dan meningkat secara mendadak gara-gara NPWP jabatan menjadi 10 juta NPWP pada tahun yang sama, itupun hasilnya banyak yang tidak akurat, bahkan ada beberapa wajib pajak yang mendapat lebih dari satu NPWP.

Usaha Pemerintah

Usaha pemerintah untuk melakukan sosialiasi pajak sudah sering dilakukan tapi hasilnya kurang memuaskan dan terkesan tidak menjangkau semua lapisan masyarakat dan efeknya hanya sementara saja.

Keputusan Dirjen Pajak No.KEP-114/PJ./2005 tanggal 1 Juli 2005 Tentang
Pembentukan Tim Sosialisasi Perpajakan merupakan salah satu contoh dari usaha pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat akan pengetahuan pajak. Masih terlintas di benak kita adanya “Arjuna dan Srikandi Pajak” yang sepertinya tak terdengar lagi sekarang.

Berperan Aktif Membantu Pemerintah

Tampaknya pemerintah tidak bisa melakukan tugas yang berat itu sendirian dan hal ini disadari oleh orang orang yang berniat mulia untuk ikut membantu pemerintah mencerdaskan masyarakat dalam bidang perpajakan, walaupun ada beberapa yang didorong oleh alasan bisnis.

Beberapa “milis” perpajakan, tempat di mana orang-orang bisa bertanya dan saling berbagi pengetahuan perpajakan banyak bermunculan. Contohnya “milis” tax-ina yang dikomandani oleh salah satunya adalah wanita penderma ilmu pajak ,kemudian ada kios pajak, diskusi-pajak, forum-pajak, asosiasi pembayar pajak dll.
Pengetahuan pajak itu diberikan secara gratis demi untuk kemajuan bersama.Sebenarnya keberadaan “milis-milis” ini sangatlah bermanfaat, cuma memang belum menyentuh semua lapisan masyarakat, karena “milis-milis” ini hanya bisa diakses bagi mereka yang mampu, baik mampu secara materiil, pengetahuan internet dan waktu serta niat tentunya. Itulah tugas kita selanjutnya untuk menggali lagi potensi-potensi kita untuk bisa memberikan lebih kepada masyarakat, misalnya anggota-anggota suatu milis tersebut bekerja sama dengan instansi pendidikan atau kelurahan mengadakan suatu kegiatan pengenalan pajak bagi pelajar atau masyarakat setempat.

Seperti kata orang bijak, “Jika ingin merubah keadaan menjadi lebih baik,
pakailah prinsip 3 M, yaitu Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri kita sendiri
dan Mulai saat ini juga”.

Oleh :
Wisnu Harjantho

Older Posts »

Categories